(sumber : www.tabloid-nakita.com)

Mana sepatumu, Nak?” tanya ibu pada si kecil. Lalu yang ditanya menimpali, “Atuatuana?” Aduh lucunya.

Membeo? Ya, si kecil suka sekali meniru omongan orang lain persis seperti burung beo. Memang inilah yang terjadi pada anak usia batita. Proses alami ini sangat bermanfaat. Peniruan bahasa tidak hanya dilakukan terhadap orangtua, melainkan juga teman sebaya, kakak, dan yang paling sering adalah televisi. Dengan membeo berarti anak mampu menunjukkan peningkatan kemampuannya berbahasa dan kosakatanya. Sementara orangtua pun dapat langsung mengoreksi pengucapan kata-katanya yang salah.

Membeo pun bisa menjadi sarana untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan, serta kebutuhannya secara lebih jelas. “Adek mau makan!”, contohnya. Kemampuan berekspresi dengan kata-kata hasil peniruan juga bermanfaat sebagai pelepasan emosi. Kalau dia kesal pada temannya yang tak mau meminjamkan mainan, terlon-tarlah umpatan, “Pelit!” misalnya.

BERI CONTOH BAIK

Kendati bermanfaat, membeo pun bisa berdampak negatif. Contohnya, anak ikut kebiasaan mengumpat tokoh-tokoh di film yang ditontonnya. Belum lagi kalau yang ditirunya merupakan kata-kata yang tidak sopan, kotor, atau bahkan tidak senonoh. Tentu saja sama sekali tidak adil bila menyebut ini sebagai kenakalan si batita. Ingat, si kecil hanya menirunya dari lingkungan dan sangat mungkin kita sendiri yang memberi contoh.

Meski pada dasarnya anak tidak memahami apa makna kata-kata tak pantas tadi, namun apa yang diucapkannya dapat membuat citra diri anak jadi negatif.

Tak hanya itu. Citra negatif ini bukan mustahil akan berimbas ke diri kita sebagai orang-tuanya yang besar kemungkinan akan dianggap sebagai orangtua yang “tidak becus mendidik anak”. Yang lebih parah, bila kebiasaan ini terbawa hingga besar, anak akan begitu mudah melontarkan kata-kata kotor dan kasar ketika emosinya meningkat. Sayang, kan? Karenanya, kondisikan anak untuk bertutur santun.

Setiap hari, beri contoh nyata bagaimana menyapa orang lain dengan ramah seperti, “halo”, “selamat siang”, atau “assalamualaikum” saat bertemu teman dan orang yang lebih tua. Juga mengajarinya bilang “terima kasih” saat mendapat sesuatu dari orang lain dan mengucapkan “permisi” ketika akan lewat di depan orang yang lebih tua.

Tentu saja saat anak mengucapkan kata-kata yang baik tadi, beri respons secara positif. Tak salah pula bila memberikan pujian yang akan membuatnya merasa tersanjung dan mau melakukannya lagi kelak. Untuk memperkuat perilakunya berikan rewards yang lebih konkret dengan memeluk, membelai, atau menciumnya.

Irfan Hasuki. Ilustrator Pugoeh

Konsultasi ahli:

Dra. Psi. Sandra Talogo, MSc

dari Spectrum Treatment and Education Centre, Jakarta

DORONGAN MEMBEO

Faktor peniruan bahasa pada batita muncul dari hal-hal berikut:

* Kemampuan berbahasa

Di usia 1 tahunan anak bisa mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mama”, “papa”, “mamam” dan sejenisnya. Sedangkan mendekati usia 2 tahun kemampuan berbahasanya meningkat jadi 2-3 kata, seperti “mama makan”, “mau mamam“, “minta susu” dan sebagainya. Nah, menjelang usia 3 tahun, perbendaharaan katanya semakin banyak. Anak pun mampu merangkai 3-4 kata sekaligus menjadi kalimat. Misalnya, “Ade mau main.” Kemajuan pesat inilah yang membuat batita “tertantang” untuk menjajal kemampuan tersebut. Makanya, begitu mendengar kata apa pun yang bisa diikutinya, ia akan menirukannya dengan perilaku membeo.

* Daya tangkap

Seiring bertambahnya usia, daya tangkap si batita pun semakin solid dan terus berkembang. Konkretnya, anak jadi lebih gampang menangkap kata-kata yang didengar dalam kesehariannya. Bila selagi asyik bermain dia menangkap kata-kata “baru” di telinganya, dia pun akan segera menirukannya. Sebaliknya, bila daya tangkap anak tidak berkembang baik, kemungkinan peniruan ini pun akan menjadi lebih kecil.

* Respons lingkungan

Anak semakin tertarik melakukan peniruan kata-kata bila dia mendapat respons yang sangat ekspresif. Misalnya, ketika anak mengungkapkan sesuatu kemudian orang di sekitarnya terkejut, marah, atau menertawakannya, maka si batita akan mengulangi ucapan itu kembali. Pasalnya, anak begitu senang menerima imbal balik yang diberikan oleh lingkungan. Dengan kata lain, ia merasa diperhatikan tanpa memedulikan apakah perhatian tersebut berupa kemarahan atau ekspresi lainnya.

* Daya tarik

Daya tarik objek/subjek yang ditiru juga merupakan faktor penting peniruan anak. Contohnya, ada iklan di teve yang begitu menarik perhatiannya, pastilah si batita akan segera menirukannya. Hal ini tampak nyata pada iklan yang memiliki jargon begitu kuat, semisal wes ewes bablas angine iklan jamu. Apalagi bila iklan-iklan tersebut berulang kali ditayangkan di teve dan anak cukup intensif mengamatinya. Akibatnya, peniruannya jadi sedemikian kental dan mengendap dalam waktu cukup lama.

* Pengaruh teman

Di usia ini anak mulai belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya. Dia bisa berinteraksi dengan satu, dua, atau tiga temannya. Dalam interaksi tersebut tak jarang anak memungut kata-kata baru yang didapat dari temannya. Boleh jadi dalam sekali kesempatan, kata tersebut belum ditirukannya. Namun karena setiap kali berinteraksi si teman mengungkapkan kata-kata khas tadi, maka anak pun akan terpancing untuk mengucapkan hal yang sama. Apalagi jika hampir semua temannya pun mengatakan hal yang sama.

TAHAPAN PERKEMBANGAN BICARA

* Usia 12-15 bulan: Kalimat Belum Jelas

Saat berusia 12-15 bulan anak akan menambah kosakatanya sebanyak 4-6 kata. Dia mulai mengucapkan beberapa kata meski terdengar aneh karena ia memang tengah mencoba belajar mengeluarkan suara. Tak heran kalau kita tidak dapat memahami apa yang disebut immature jargoning ini.

* Usia 16-17 bulan: Mengucap dengan Benar

Seharusnya di usia ini anak sudah dapat menguasai 7-20 kata termasuk kata baru yang didapatnya. Bila sebelumnya kata-kata yang dikeluarkannya tidak jelas, kini mulai terdengar bermakna. Meski kadang ada beberapa kata yang masih sulit kita pahami.

* Usia 18 bulan: Mengucapkan Dua Kata

Di usia 18 bulan anak mulai dapat merangkai 2 kata menjadi kalimat sederhana, seperti “mau makan,” “mau susu”, “tidak mau” dan sebagainya. Tak heran bila di usia ini anak sudah bisa menirukan kalimat yang terdiri dari dua kata.

* Usia 21-30 bulan: Saya dan Kamu

Di usia 21 bulan perbendaharaan kata anak mencapai lebih dari 50 kata. Dia pun sudah bisa menggunakan kata “saya” untuk menunjukkan dirinya atau “kamu” untuk orang lain meski penggunaannya tak jarang masih kurang tepat. Selanjutnya, di usia 30 bulan perbendaharaan katanya semakin banyak dan penggunaan kata “saya” dan “kamu” sudah benar.

* Usia 36 bulan: Merangkai Tiga Kata

Setelah berusia 3 tahun, setidaknya anak sudah menguasai sekitar 250 kata. Ia pun sudah mampu membentuk kalimat yang terdiri dari 3 kata.

ADA APA BILA TAK MEMBEO?

Tidak semua anak membeo. Ada beberapa anak yang terlihat cuek terhadap kata-kata yang diucapkan orang-orang di sekitarnya. Anak-anak seperti ini tentu saja tak sedikit pun berminat/berusaha menirukannya. Menghadapi anak seperti ini, orangtua seharusnya curiga jangan-jangan anaknya mengalami gangguan bicara atau kemampuan berbahasa. Berdasarkan penelitian, sekitar 3-15% anak mengalami telat bicara atau gangguan berbahasa yang lain.

Gangguan ini terkait dengan fungsi reseptif dan ekspresif yang mungkin berjalan kurang baik. Fungsi reseptif adalah kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap seseorang dan kejadian lingkungan sekitarnya. Termasuk kemampuan untuk mengerti mimik dan nada suara sekaligus memahami/mengerti kata-kata yang didengarnya. Artinya, anak dapat menerima informasi yang masuk untuk kemudian dipahaminya.

Sedangkan fungsi ekspresif adalah kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya yang dimulai dari komunikasi praverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal. Bila ada gangguan di otak dalam proses ini maka kemungkinannya anak tidak bisa melakukan peniruan dari apa yang dilihat dan didengarnya. Bila yang terganggu adalah proses peniruan berbahasa maka anak tidak akan membeo.

Tidak mampu menirukan bunyi bahasa dapat dikarenakan gangguan di otak. Sebenarnya orangtua bisa mendeteksi sendiri apakah buah hatinya yang masih batita mengalami gangguan berbicara atau tidak. Ayah dan ibu dapat berpatokan pada tabel perkembangan dan pertumbuhan anak yang tercantum dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) atau buku sejenis lainnya. Namun, bila tidak sesuai dengan apa yang disebutkan di situ, jangan langsung memvonisnya mengalami gangguan. Mungkin saja masalahnya hanya kurang stimulasi bicara.

MELURUSKAN PERKATAAN TAK SOPAN

* Jangan merespons

Respons yang ekspresif, seperti, “Eh, enggak boleh ya ngomong seperti itu. Jelek!” malah akan membuat anak mengulangi dan mengulangi lagi perkataan yang tak pantas. Itu karena ia merasa mendapat perhatian ekstra dengan mengucapkannya. Sebaiknya tahan diri untuk bersikap tenang dan tidak menunjukkan respons yang ekspresif, seperti terkejut, marah atau sejenisnya terhadap ucapan negatif anak. Cukup isyaratkan bahwa anak tidak boleh mengucapkan hal tersebut. “Lo, kok, ngomongnya seperti itu!” misalnya.

* Beri penjelasan

Anak usia ini bisa mencerna penjelasan sederhana saat ia mengucapkan kata yang tidak pantas. Misalnya, ketika ia bilang “Mama kayak monyet!” kita harus segera mengarahkannya. Katakan pada anak bahwa kalimat tersebut tidak pantas diucapkan. “Mama manusia dan bukan monyet. Manusia tentu saja tidak boleh dibilang monyet.” Begitu pula ketika ucapan senada ditujukan ke kakak/adik atau temannya, orangtua harus segera mengarahkannya.

Agar melekat, penjelasan ini perlu diulang kembali setiap kali anak mengucapkan kata-kata tidak pantas. Akan tetapi, berusahalah untuk selalu menurunkan nada bicara alias tidak disertai amarah. Penjelasan yang konsisten akan membuat anak memahami apa yang boleh dan tidak boleh. Apalagi di usia ini anak cenderung mudah lupa dengan apa yang pernah diperingatkan orangtuanya.

* Cari kata pengganti

Bila peniruan sudah sedemikian kuat sering kali teramat sulit memberi arahan pada anak. Biasanya dia akan menentang bila diberi arahan, bahkan cenderung mengulang-ulang perkataan yang kita larang. Tak perlu panik mengingat usia ini memang merupakan masa negativistik. Untuk mengatasi sifat ini salah satunya dengan mencari padanan kata yang tidak terdengar kasar atau jorok.

Contohnya, ketika ia mengatakan “Mama monyet”, kita bisa memintanya untuk bilang “Mama bukan monyet, tapi Mama kupu-kupu.”

* Kenakan konsekuensi

Konsekuensi baru diterapkan bila arahan yang berulang kali kita berikan tak mempan mengubah perilakunya. Namun ingat, konsekuensi sebaiknya bersifat mendidik, semisal beberapa hari tidak boleh main sepeda, tak dibelikan es krim kesukaannya, tidak diizinkan main lego dan sebagainya. Jadi, bukan dengan hujatan apalagi hukuman fisik.

* Hentikan sumber peniruan

Hal penting yang tidak boleh ditinggalkan adalah menelusuri sumber kata-kata negatif tersebut. Jika benar meniru ucapan kita, segera hapus kata tersebut dari pembicaraan kita sehari-hari. Sementara kalau berasal dari anak lain, mintalah ia untuk tidak berkata-kata seperti itu lagi sambil juga mengarahkan si kecil di rumah dengan contoh berbahasa yang baik. Bila sulit, batasi dulu intensitasnya bermain dengan anak tadi. Selektiflah memilih acara teve untuk anak dan dampingi selama menonton.