In one town near a beach and crowded with people there is lived an orphan girl.
Her name is Gadis (Indonesian Language with mean a calling for a young girl). Her parents was died since
she was small. Since then, she lived with her aunt. Unfortunately her aunt was very poor
and had a bad temper. She always was being cruel to Gadis.
Gadis is a diligent girl, she always doing her job well. One of her job is getting water
from a well. In beach area, it is no easy to get pure water. The location of the well is very
far from her home. When she was going to get water Gadis always come by to sit
under a big tree with dense leaf. In this time she can rest for a while and hindered from
the hard sun light.
Sometimes, Gadis cried under that tree if she felt alone in this world. She doesn’t know
to whom she can tell her sadness. Between her cried she always pray to the God asking
for His protection and guardian. Strangely, each time she cried the tree always spread
out her branch. The leafs wave slowly and make a beautiful sound as seem the tree was
singing. The sound made Gadis happy and amazed. The rhythm of this song
cheer up her sorrow and make her forgetting all her sadness. The song became a
lullaby. The little girl slept under the tree and the big tree lowering its branch so the
sun light could not harm her body. When she slept too long, the tree wake her up by
falling one leaf to her cheek.
Pada suatu musim panas yang indah di pedesaan, seekor Ibu Itik sedang menunggu telur-telurnya menetas. Setelah beberapa lama, keluarlah anak-anak itik kecil dari telur-telur mereka, tetapi satu telur tersisa. Dengan sabar si Ibu Itik mengerami telur itu hingga akhirnya menetas. Tetapi anak itik kecil yang keluar sangatlah buruk rupa.
?Aku tidak mengerti bagaimana anakku bisa seburuk rupa ini!? Si ibu Itik berkata pada dirinya sendiri, menggelengkan kepada saat ia melihat anak bungsunya. Si Itik yang berwarna abu-abu ini memang bruuk rupa, dank arena ia makan lebih banyak dibandingkan kakak-kakaknya, ia pun lama kelamaan mulai lebih besar dari mereka. Hari-hari berlalu, dan si Itik yang buruk rupa semakin merasa tidak bahagia. Kakak-kakaknya tidak mau bermain dengannya, dia sangat kikuk dan semua binatang di pedesaan itu menertawakannya. Ia merasa sedih dan kesepian, sementara Si Ibu Itik mencoba menghiburnya,
Sudah tidak asing lagi jika si kecil yang berusia batita menjadi begitu rewel. Sampai-sampai dalam melakukan kegiatan sehari-hari ia pun selalu mengawali dengan menangis. Ternyata kerewelan si batita berhubungan pula dengan temperamennya. Umumnya temperamen anak dibagi menjadi 3, yakni mudah, sulit, dan lambat (slow to warm up). Semua temperamen ini sudah dapat dilihat sejak si kecil masih bayi.
Anak yang tergolong bertemperamen mudah, sangat mudah beradaptasi dalam menghadapi situasi baru. Sebaliknya anak yang tergolong bertemperamen sulit akan sulit beradaptasi dengan menunjukkan reaksi yang keras bila dikenalkan pada lingkungan baru. Sedangkan anak yang tergolong bertemperamen lambat butuh rentang waktu tertentu untuk menyesuaikan diri.