Terlalu sering menonton TV membuat anak sulit berkonsentrasi, misalnya saat membaca.
Bagi orang dewasa, TV merupakan salah satu media instan untuk mendapatkan informasi. Sedangkan bagi anak-anak, TV bisa jadi teman setianya di rumah selama ditinggal orang tuanya. Itulah sebabnya stasiun TV kemudian memasukkan acara anak-anak dalam program mereka.
Bagi banyak orang tua, TV memang sering dijadikan sarana untuk membuat anak duduk anteng dan tidak rewel sehingga ayah-bundanya bisa dengan tenang melakukan kesibukan lain di rumah. Padahal, anak merupakan kelompok pemirsa yang paling rawan terhadap dampak negatif siaran televisi. Dan apakah TV teman belajar yang tepat bagi anak-anak?
The American Academy of Pediatric,?tidak merekomendasikan?anak di bawah usia dua tahun dan bayi untuk menonton TV atau DVD. Sedangkan anak berusia di atas tiga tahun, disarankan untuk menonton televisi cukup dua jam setiap harinya.
Dalam Jurnal Nasional, Dr. Hardiono D. Pusponegoro SPA (K), Konsultan Neurolog Anak RSCM mengemukakan bahwa penelitian di luar negeri mengaitkan TV dengan obesitas karena anak-anak tidak banyak melakukan aktivitas fisik selama menonton. Di samping itu, TV juga memberikan gambaran tentang kekerasan dan kehidupan seks yang tidak sesuai dengan daya nalar anak. Dan di sisi lain, penelitian tentang TV mempengaruhi kognitif atau kecerdasan anak masih kecil.
Disamping itu, anak yang terlalu dekat menonton TV dapat berdampak pada penglihatan dan pendengarannya. Dampak yang lain adalah tidak adanya interaksi langsung terhadap sekitar karena terlalu asyik menonton TV sehingga anak menjadi anti sosial atau autis.
Yayasan Pengembangan Media Anak, mengungkapkan beberapa dampak buruk menonton TV pada anak. Pada anak usia 0-3 tahun, terlalu sering menonton TV dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman, juga menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan.
Sementara itu, tayangan TV tanpa pendampingan orangtua bisa meningkatkan agresivitas dan kekerasan pada anak usia 5-10 tahun. Selain itu anak juga tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.
Karenanya, selain membatasi jam menonton TV bagi anak, sebaiknya orangtua selalu mendampingi anak ketika menonton. Cara lain adalah dengan menyeleksi tayangan mana saja yang layak dikonsumsi sesuai usia anak.
Jika orangtua memutuskan untuk mengurangi menonton TV, persiapkan kegiatan lain yang menyenangkan untuk dilakukan bersama anak-anak.
Yang jelas, sesuatu yang terlalu berlebih dan kurang kontrol memang tidak bagus kan….
2 Responses
aroengbinang
December 26th, 2007 at 3:08 pm
1sesungguhnya mungkin tergantung juga pada acara apa yg ditonton jeng; sayang memang gak banyak tv yg mikirin tontonan yg baik untuk perkembangan anak. mendapatkan yang satu memang akan mengurangi atau bahkan menghilangkan yang lain; konsekuensi perkembangan teknologi kadang sulit dihindari…
mamadigi
December 27th, 2007 at 4:52 am
2Makasih mas buat komennya.
Memang benar juga, menonton TV buat balita tidak selamanya buruk, tergantung jg dari acara yg ditontonnya. Dan peranan orang tua lah diperlukan. Saya dan suami pun tidak terlalu fanatik jika Digi mau nonton TV.
Tapi ternyata Digi sendiri kurang menyukai menonton acara2 anak di TV, dia lebih senang menonton CD2nya (Serial Pablo/backyardigan, Barney, Baba, CD musik, dll) dan malah marah kalau mama dan papanya nonton TV. Walhasil selama liburan kemarin, kita cm kebagian nonton TV malem…hehe..
Jd pesen buat papa Digi : kayaknya perlu tambahan TV satu lg nich…huehehe..
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
Leave a reply
Categories
Archives
Calendar
Blogroll
Visitor
Recent Comments
Most Commented
Digithalia.com - Digital World is proudly powered by WordPress - BloggingPro theme by: Design Disease