Orang sering mengaitkan kondisi sekarang dengan masa depan. Apa yang terjadi sekarang akan merajut masa depan. Tapi, mari simak dulu pengalaman Dave Pelzer, seorang penulis buku bestseller.
Dave Pelzer menuliskan kisah hidupnya dalam triloginya yang terkenal, A Child Called It, The Lost Boy, dan A Man Named Dave. Belum lama ini, Dave menulis rangkuman kisah hidupnya dalam buku Help Yourself. Biografi Dave Pelzer menjadi terkenal lantaran termasuk kategori kisah penganiayaan anak terberat di California.
Sepotong kisahnya seperti ini. Selama 12 tahun pertama, Dave mengalami penyiksaan fisik dan psikis dari ibunya yang pecandu alkohol.
Penderitaan Dave seolah tak berujung. Dave harus minum dari talang air berkarat yang bocor. Ia terpaksa puasa 10 hari karena tidak boleh makan. Ia juga sering dilarang bicara di rumah. Dave mengakui tidak pernah dibesarkan di rumah, tapi di garasi.
Nah, dengan latar belakang yang seperti itu, apa yang terpikir dalam benak Anda? Apa yang akan Anda katakan tentang masa depan Dave? Wajar jika disimpulkan bahwa orang yang masa kecilnya mengalami kekelaman akan membuat kehidupan di masa depannya tidak ideal.
Tapi, jangan kaget, justru Dave mengalami masa gemilang di masa depannya. Ia bergabung dengan kesatuan khusus angkatan udara Amerika. Di usia 32 tahun, Dave terpilih sebagai Ten Outstanding Young American. Salah satu penerimanya adalah John F Kennedy.
Dari pengalaman
Kita bisa banyak belajar dari pengalaman Dave. Inilah pelajaran bahwa masa lalu tidak identik dengan masa depan. Masa lalu yang kelam tidak berarti masa depan kita juga kelam. Dave hanyalah salah satu contoh. Ratu talkshow dunia, Oprah Winfrey, juga dibesarkan dalam keluarga yang broken home.
Baik Dave maupun Oprah adalah contoh orang-orang yang melepaskan diri dari masa lalunya. Mereka tidak terikat dengan mimpi buruk di masa lalu. Mereka menjadi orang yang bebas dan independen merajut masa depannya.
Nah, untuk mengatasi agar masa lalu tidak menjadi beban bagi kehidupan kita, Dave Plezer memberikan tiga catatan penting. Pertama, lepaskan ransel emosi masa lalu yang memberatkan langkah maju kita.
Kedua, pahamilah apa yang menjadi dambaan dan mimpi dalam kehidupan kita. Kita perlu merumuskan tujuan dan harapan hidup kita masing-masing. Dengan ini, kehidupan kita menjadi begitu berharga untuk dijalani.
Ketiga, rayakan siapa dan apa adanya diri kita sekarang. Hidup dengan segala realitasnya ini harus berani diamini dan dirayakan. Carl Rogers mengatakan manusia yang dewasa mampu hidup sekarang dan di sini (hic et nunc). Ia mampu mengapresiasikan masa kini. Sementara, banyak orang membenci kenyataan dirinya.Tapi, yang dewasa akan belajar berdamai dan menerima apa pun yang terjadi.
Percaya diri adalah bagian dari alam bawah sadar dan tidak terpengaruh oleh
argumentasi yang rasional. Ia hanya terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat
emosional dan perasaan. Maka untuk membangun percaya diri diperlukan alat yang
sama, yaitu emosi, perasaan, dan imajinasi.
Emosi, perasaan dan imajinasi yang positif akan meningkatkan rasa percaya diri.
Sebaliknya emosi, perasaan dan imajinasi yang negatif akan menurunkan rasa
percaya diri. Bagaimana caranya supaya diri kita selalu dikelilingi oleh energi
positif yang maksimum? Simak kiat-kiat berikut ini :
1. Menghilangkan pengaruh negatif.
Sejak lahir dan sepanjang hidup kita mengalami rangsangan positif dan negatif
dari lingkungan silih berganti. Orang yang sepanjang hidupnya menerima
rangsangan negatif relatif akan memiliki kadar percaya diri yang rendah.
Rangsangan negatif dapat berasal dari lingkungan keluarga, masyarakat sekitar,
kantor atau lingkungan pekerjaan, sekolah dan sebagainya.
Apabila kita terperangkap dalam suatu kondisi hubungan antar manusia yang
sangat buruk, segera cari solusi. Cara pertama adalah dengan berdamai atau
berkompromi dengan lingkungan. Terima kondisi dengan ikhlas. Tapi kalau tidak
membawa hasil positif, lebih baik keluar saja dari lingkungan tersebut apapun
resikonya.
2. Pengakuan dan Penghargaan
Pengakuan dan penghargaan orang lain terhadap keberadaan, perbuatan atau
prestasi kita, akan sangat meningkatkan rasa percaya diri. Masalahnya tidak
banyak orang lain yang melakukan hal itu. Hanya orang-orang positif yang mau
melakukan hal itu.
Solusinya adalah bergabunglah dengan kelompok orang-orang yang positif. Cara
lain, kita bisa memulai dengan melakukan pengakuan dan penghargaan pada diri
kita sendiri. Sekecil apapun perbuatan positif yang kita lakukan, akui dalam
diri kita, atau beri hadiah kecil-kecilan.
3. Pujian
Sama seperti halnya pengakuan, pujian dapat meningkatkan rasa percaya diri
kita. Siapa yang tidak senang kalau ada yang memuji penampilan, kepintaran atau
keahlian kita. Pujian pun jarang diberikan pada lingkungan orang yang mayoritas
berpikiran negatif.
4. Memanjakan diri
Memanjakan diri itu penting dan perlu. Karena dengan begitu, kita akan merasa
sebagai manusia yang berharga dan bisa menghargai orang lain.
5. Beranggapan baik terhadap diri sendiri
Ini cara yang paling mudah untuk meningkatkan percaya diri kita, karena dapat
dilakukan kapan saja dan di mana saja.
6. Dapatkan input positif melalui panca indra
Input positif dapat diperoleh lewat kisah-kisah heroik, kisah sukses, kisah
yang motivatif dan emosional dari tokoh atau pebisnis yang sukses. Kisah-kisah
tersebut dapat memotivasi kita untuk berpikir dan bertindak positif. Kita bisa
mendapatkan input tersebut dari buku, kaset, dan tv.
7. Biasakan bersikap positif
Mulailah bersikap positif dari diri sendiri dengan melakukannya pada kehidupan
sehari-hari. Pastikan memori kita hanya menyimpan peristiwa positif. Pandang
orang lain secara imbang dengan diri kita. Selalu berbuat jujur. Dan tunjukan
bahwa kita memang punya rasa percaya diri.
Mulai Dari Rasa Cinta
Dulu, menjadi pengusaha rasanya seperti impian di awang-awang. Tapi, kini orang berlomba-lomba menjadi pengusaha.
Menurut Rhenaldi Kasali, banyak alasan orang kini berminat membuka usaha sendiri. Yakni, ingin menjadi bos bagi diri sendiri. Melihat peluang usaha, diajak teman atau bahkan karena daripada repot melamar ke sana kemari.
Di satu sisi menurut Rhenaldi, memiliki usaha sendiri memang menyenangkan. Misalnya, Anda memiliki jam kerja fleksibel, bebas melakukan hal yang disukai dengan penuh kemerdekaan, menjadi bos bagi diri sendiri, atau tidak perlu menemui intrik dan politik antarkaryawan.
Tapi, ini bukan berarti tak ada sisi tak asyiknya. Dengan berbisnis sendiri, Anda harus bertanggung jawab kepada nasib orang lain, bekerja 24 jam sehari atau 7 hari seminggu karena jika Anda tidak bekerja keras, Anda tidak akan mendapat gaji, dan rumah Anda pun tak bisa menjadi tempat untuk bercengkerama karena menjadi kantor juga.
Nah, bagaimana supaya sisi negatif ini tak dirasakan? Menurut Rhenaldi, kuncinya adalah passion. ?Terjunlah ke dalam bidang yang Anda cintai. Apapun itu, dan letakkan hati Anda di sana. Sebab, kecintaan ini membawa Anda untuk menambah pengetahuan mengenai bisnis itu, sehingga bisnis Anda makin tajam, beragam, dan Anda memiliki cita rasa untuk menjadikannya produk manis. Kecintaan juga membuat Anda tidak akan pernah merasa bosan,? saran Ketua Program Pasca Sarjana UI ini.
Setelah rasa cinta tumbuh, barulah wujudkan bisnis itu dengan kemauan kuat. Rhenaldi menilai, setiap orang pada dasarnya bisa melakukan bisnis, tapi hanya orang memiliki kemauan kuat yang mampu memulai usaha. ?Tak perlu rebut soal modal kecil, pegawai hanya satu, atau tempat usaha belum memadai. Buktinya, Femina yang bisa berjaya hingga lebih 30 tahun dimulai dari sebuah garasi,? ujar Rhenaldi.
Dalam mempertahankan bisnis, Rhenaldi menyarankan agar panjang akal. Sebagai pengusaha, Anda harus memikirkan bisnis supaya bisa balik modal, meraih keuntungan, dan juga memuaskan pelanggan. Harus disadari, bisnis tak selamanya untung, bersiaplah menghadapi kegagalan. Bahkan, Rhenaldi melihat, di tahun-tahun pertama membuka bisnis, tingkat kegagalan bisa mencapai 99%. Meski begitu, dia menyarankan untuk tidak lantas mundur. ?Cobalah berpikir seperti kata penyair Ralph Wado Emerson, yang mengatakan, ?Every wall is a door?. Setiap dinding adalah pintu, bukan sebaliknya,? tutur Rhenaldi.
Andapun tak perlu takut dengan persaingan. Karena bisnis tak mungkin melenggang tanpa kompetisi apapun. Yang penting, Rhenaldi menekankan, Anda selalu membuat diferensiasi, supaya bisa membedakan produk yang Anda jual atau produksi dengan pesaing-pesaing Anda.?
Pentingnya Perencanaan Bisnis
Berwirausaha bukan sekedar mewujudkan ide, namun juga membutuhkan business plan atau semacam perencanaan bisnis. Memulai usaha tanpa business plan, bagaikan membangun rumah tanpa gambar sehingga bentuk, besar dan kekokohannya tidak dapat terprediksi.
Sebuah business plan, menurut Rhenaldi, adalah a detail explanation. Jadi, dia memuat segala hal yang Anda impikan. Mulai dari rincian produk yang akan ditawarkan dan kelebihannya dibanding produk sejenis, pemilihan pasar, persaingan, pemilihan lokasi usaha, penggunaan SDM, pembiayaan, risiko, hingga strategi pemasarannya.
Perincian seperti itu penting, jika Anda ingin usaha Anda akan menjadi besar. Apa rambu-rambunya?
Pertama,
rencana yang ingin dilakukan. Tulislah apa yang Anda pikirkan atau impikan, lakukan perubahan, biasanya mukzizat akan datang dengan sendirinya.
Kedua, analisis pasar dan persaingan. Bukalah akses seluas-luasnya untuk mendapatkan pelanggan. Selain itu, buatlah agar pelanggan Anda loyal pada produk Anda.
Ketiga, mengenai SDM, carilah orang yang mempunyai tekad, passion, fokus, dan komitmen tinggi. Jangan cuma melihat nilai akademisnya, tapi pertimbangkan pula kecerdasan, emosionalnya.
Keempat, menentukan harga kompetitif sesuai kualitas. Kuncinya efisiensi, supaya Anda bisa menekan biaya produksi.
Kelima, jeli mencari lokasi dan supplier, serta membangun brand yang baik.